Workshop MGMP KIK Jabar Perkuat Sinergi Sekolah dan Industri

SOROT JABAR – Kegiatan Workshop MGMP KIK (Kreativitas, Inovasi, dan Kewirausahaan) yang diselenggarakan di Aula Ki Hajar Dewantara Disdik Jawa Barat berlangsung dengan tertib dan penuh antusiasme. Acara diawali dengan pembukaan sebagai tanda dimulainya rangkaian kegiatan, Selasa (10/02/2025). Untuk menumbuhkan rasa nasionalisme, seluruh peserta bersama-sama menyanyikan lagu kebangsaan Indonesia Raya, kemudian kegiatan dilanjutkan dengan doa pembuka agar workshop dapat berjalan dengan lancar dan memberikan manfaat bagi semua pihak.

Selanjutnya, laporan kegiatan disampaikan oleh Ketua FMGMP PKK Jawa Barat Dr. Asep Totoh Wijaya yang menegaskan pentingnya forum MGMP sebagai wadah kolaborasi guru dalam meningkatkan kualitas pembelajaran, khususnya pada mata pelajaran KIK yang berperan besar dalam menumbuhkan jiwa kewirausahaan siswa SMK.

Workshop secara resmi dibuka dengan pengantar materi dari Kepala Bidang PSMK Dinas Pendidikan Provinsi Jawa Barat yang turut membahas arah pengembangan kewirausahaan SMK serta Awarding Kreator Affiliate Batch ke-1. Dalam sambutannya, Bapak Dr. Drs. Edy Purwanto, M.M., selaku Kabid PSMK Dinas Pendidikan Provinsi Jawa Barat, menekankan bahwa penguatan program kewirausahaan menjadi langkah strategis dalam menciptakan lulusan SMK yang tidak hanya siap kerja, tetapi juga mampu menciptakan lapangan pekerjaan.

Memasuki sesi inti, materi pertama disampaikan oleh Drs. Nanang Yusuf, seorang praktisi pendidikan vokasi yang meskipun telah purnatugas, tetap aktif berkontribusi di tingkat Jawa Barat hingga nasional. Ia mengajak para guru KIK untuk memperkuat pembelajaran mendalam melalui konsep 8 Dimensi Profil Lulusan, yaitu pembelajaran yang berkesadaran, bermakna, dan menyenangkan. Menurutnya, proses belajar harus menitikberatkan pada pemahaman, praktik langsung, serta refleksi agar siswa benar-benar menguasai kompetensi.

Beliau juga menegaskan bahwa pembelajaran KIK harus lebih berorientasi pada praktik dan proyek nyata, bukan hanya teori, serta dapat diperkuat melalui penerapan Teaching Factory (TEFA). Guru dituntut untuk terus kreatif dan inovatif sehingga mampu menularkan semangat tersebut kepada siswa dan melahirkan lulusan yang siap berkarya maupun berwirausaha.

Namun demikian, terdapat sejumlah tantangan yang perlu dihadapi, mulai dari keterbatasan sumber daya manusia yang harus terus ditingkatkan kompetensinya, pentingnya kolaborasi dengan para founder wirausaha, hingga persaingan bisnis yang semakin ketat. Oleh karena itu, siswa perlu dibekali strategi, keberanian mengambil risiko, serta pola pikir inovatif agar mampu bertahan dan berkembang di dunia kewirausahaan.

Materi kedua disampaikan oleh Zulfikar Reza Fauzi S.E.,M.M, Project Manager Chlorine Digital Media, yang menyoroti pentingnya kolaborasi industri dalam penerapan mikrokredensial. Ia menjelaskan bahwa mikrokredensial merupakan kompetensi-kompetensi spesifik dalam skema Kewirausahaan Digital yang dirancang sesuai kebutuhan dunia kerja, sehingga sangat relevan untuk diperkenalkan sejak siswa masih berada di bangku sekolah.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *