Di lagu “STREAM” sang vokalis berusaha menceritakan tentang proses kreatif SCUM (スカム) selama ini, dari dianggap sebagai “Underdog” maupun underestimate dari khalayak umum. Genre Visual Kei dianggap sudah tidak relevan di era sekarang. Pada nyatanya hanya SCUM (スカム) lah band Visual Kei terlama di Kota Semarang yang masih bertahan dan eksis hingga saat ini.
“Ambisi ku dan intuisiku bukanlah sebuah bayangan semu belaka” potongan lirik tersebut menceritakan tentang pembuktian bahwa bukan omong kosong belaka, SCUM (スカム) dengan genre Visual Kei bisa bertahan dan bisa mengekspresikan musik yang ingin dipersembahkan kepada khalayak umum maupun fans Visual Kei. Ucap “Kaito” Mahendra bersandar di kursi sembari meminum kopi.
Bahkan ada kejadian yang cukup unik Ketika proses rekaman berlangsung, di dalam studio Ketika sedang proses tracking gitar dengan tidak disangka terjadi mati listik di tempat tersebut yang mana membuat kesan tersendiri untuk SCUM (スカム) dalam proses rekaman. Ketika proses kreatif pembuatan lagu “STREAM” berlangsung, SCUM (スカム) terinspirasi dari beberapa band jepang idola mereka seperti Girugamesh, Deluhi, dan The GazettE. Mulai sound gitar yang berkarakter, dengan adanya isian synthesizer yang menjadi ciri khas mereka. Ditambahkan dengan teriakan scream yang membuat music menjadi makin melankolis dan dramatic.
Kedepannya SCUM (スカム) akan merilis merchandise, dan CD “Zenyou” (全容) (Full Story/Whole aspect) mereka, Sebuah proses selanjutnya dari “Kaito” Mahendra berupa buku yang menceritakan kisah dari seluruh karya SCUM (スカム). Tak lupa mereka juga akan merilis beberapa single terbaru kedepannya. SCUM (スカム) kini tergabung dalam Atlas Records dan sudah menyiapkan beberapa agenda besar dalam tahun ini. Music video dan Lyric video menjadi agenda yang paling ditunggu.
(Red/Atlas Records)






