Pada kesempatan yang sama, Ketua Pokdarwis Cisurupan, Ari Irawan, menyampaikan bahwa Padaringan Leuweung Awi Cisurupan mengusung konsep pasar tradisional berbasis alam. Kawasan tersebut menghadirkan sekitar 20 pelaku UMKM lokal, pertunjukan seni budaya, serta sistem transaksi menggunakan koin kayu sebagai simbol pelestarian budaya tempo dulu.
Menurut Ari, aktivasi perdana yang sebelumnya telah diuji coba memberikan dampak positif terhadap perputaran ekonomi masyarakat.
“Kami berharap Padaringan Leuweung Awi Cisurupan dapat terus konsisten diselenggarakan dua kali setiap bulan, sekaligus menjadi ruang pemberdayaan UMKM, pelestarian budaya, dan penguatan wisata berbasis masyarakat,” katanya.
Selain menikmati kuliner tradisional khas Sunda, pengunjung juga dapat menyaksikan pertunjukan seni, menikmati suasana hutan bambu yang masih alami, hingga mengunjungi situs religi Mbah Garut yang berada di kawasan tersebut.
Peresmian Padaringan Leuweung Awi Cisurupan ditandai dengan pemukulan gong oleh Wali Kota Bandung sebagai simbol dimulainya aktivasi destinasi wisata baru yang mengedepankan pelestarian alam, budaya, dan pemberdayaan masyarakat.
(Red/Diskominfo Kota Bandung)






