71 Tahun Konferensi Asia Afrika, Momen Bandung Satukan Dunia

SOROT JABAR – Tepat 71 tahun lalu, Kota Bandung mencatat sejarah dunia sebagai tuan rumah Konferensi Asia Afrika yang berlangsung pada 18–24 April 1955, sebuah momentum penting yang mempertemukan 29 negara Asia dan Afrika untuk memperjuangkan kemerdekaan, solidaritas, dan perdamaian di tengah ketegangan global pasca Perang Dunia II.

Konferensi ini lahir dari situasi dunia yang belum sepenuhnya stabil setelah berakhirnya Perang Dunia II pada 1945. Sejumlah negara di Asia dan Afrika masih berada di bawah penjajahan, sementara negara-negara yang telah merdeka menghadapi tantangan internal dan konflik wilayah. Di sisi lain, dunia terpolarisasi dalam dua kekuatan besar, yaitu Blok Barat yang dipimpin oleh Amerika Serikat dan Blok Timur oleh Uni Soviet dalam era Perang Dingin.

Gagasan penyelenggaraan konferensi bermula dari pertemuan negara-negara Asia di Kolombo pada 1954. Saat itu, Perdana Menteri Indonesia Ali Sastroamidjojo mengusulkan forum yang lebih luas dengan melibatkan negara-negara Afrika. Usulan ini mendapat dukungan kuat dari Soekarno, yang mendorong terciptanya solidaritas negara-negara yang pernah mengalami penjajahan.

Kesepakatan penting kemudian dicapai dalam pertemuan di Bogor, yang menetapkan Indonesia sebagai tuan rumah dan Bandung sebagai lokasi pelaksanaan. Berbagai persiapan dilakukan secara intensif, termasuk penyiapan Gedung Merdeka sebagai lokasi utama konferensi, serta fasilitas pendukung seperti Hotel Homann dan Hotel Preanger untuk akomodasi para delegasi.

Pada 18 April 1955, suasana Kota Bandung dipenuhi antusiasme masyarakat. Para delegasi berjalan kaki menuju lokasi konferensi dalam momen bersejarah yang dikenal sebagai “Langkah Bersejarah”. Konferensi secara resmi dibuka oleh Presiden Soekarno melalui pidatonya yang terkenal, “Let a New Asia and a New Africa be Born”, yang menegaskan pentingnya persatuan di tengah perbedaan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *