Persib sebagai Identitas Historis Bandung: Jangan Samakan Persib dengan Event Lari, Persib Bukan Dibangun oleh Tren, Tapi oleh Sejarah dan Warisan Budaya

Oleh: Muhammad Yusuf, S.Sos., M.M
(Direktur Politeknik Praktisi Bandung)

SOROT JABAR – Perdebatan mengenai konvoi bobotoh Persib Bandung dan event lari di Kota Bandung belakangan ini memperlihatkan adanya benturan antara identitas budaya lokal dengan kultur urban kontemporer.

Sebagian kalangan mempertanyakan mengapa masyarakat Bandung cenderung permisif terhadap konvoi Persib yang menimbulkan kemacetan, sementara event lari justru sering dipandang mengganggu aktivitas publik.

Namun dalam perspektif sosiologi budaya, fenomena tersebut tidak dapat dibaca secara administratif semata.

Kota bukan hanya ruang fisik, melainkan ruang simbolik yang dipenuhi memori kolektif, identitas sosial, dan relasi emosional masyarakat terhadap simbol tertentu.

Dalam konteks Bandung, Persib tidak dapat diposisikan hanya sebagai klub sepak bola. Persib merupakan representasi identitas historis masyarakat Bandung dan Jawa Barat yang telah mengakar sejak era kolonial. Berdiri pada tahun 1933, Persib bahkan lahir sebelum Republik Indonesia berdiri. Artinya, klub ini tumbuh bersamaan dengan perkembangan identitas sosial masyarakat urban Bandung modern.

Konsep ini sejalan dengan teori collective memory Maurice Halbwachs (1992) yang menjelaskan bahwa identitas kelompok dibangun melalui ingatan sosial yang diwariskan secara kolektif lintas generasi.

Dukungan terhadap Persib bukan sekadar preferensi olahraga, melainkan hasil internalisasi budaya yang berlangsung dalam keluarga, lingkungan sosial, dan kehidupan keseharian masyarakat Sunda.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *