Distribusi tenaga pendidik turut menjadi perhatian. Yadi berharap penempatan guru-guru berpengalaman di Sekolah Maung tidak mengurangi kualitas pembelajaran di sekolah lain apabila tidak disertai kebijakan pemerataan yang proporsional.
Ia juga menyoroti pentingnya akses bagi peserta didik dari keluarga kurang mampu, termasuk anak-anak buruh dan masyarakat di daerah terpencil. Menurutnya, dukungan berupa transportasi, asrama, maupun kebijakan afirmasi perlu dipertimbangkan agar kesempatan mengikuti program dapat diakses secara lebih setara.
Dari sisi tata kelola, Yadi berharap proses seleksi peserta didik dilaksanakan secara transparan dan akuntabel. Meski pemerintah telah menyatakan tidak ada jalur titipan maupun perlakuan khusus di luar ketentuan, ia menilai sistem seleksi tetap perlu mudah diawasi untuk menjaga kepercayaan publik.
Selain itu, SBNI juga mendorong adanya indikator keberhasilan yang terukur, mekanisme evaluasi berkala, serta kepastian mengenai pembiayaan jangka panjang agar program dapat berjalan secara berkelanjutan.
“Kami mendukung setiap upaya peningkatan mutu pendidikan. Namun, keberhasilan sebuah program harus diukur dari sejauh mana manfaatnya dapat dirasakan secara adil oleh seluruh peserta didik di Jawa Barat, bukan hanya di sekolah-sekolah tertentu,” kata Yadi.
Menurutnya, pemerataan kualitas pendidikan, distribusi tenaga pendidik yang berkeadilan, transparansi pelaksanaan, serta kesiapan regulasi menjadi faktor penting agar Program Sekolah Maung benar-benar mampu menghadirkan kesempatan pendidikan yang setara bagi seluruh masyarakat Jawa Barat.
(Red/Yadi Suryadi)






