Ia menegaskan penguatan Pendidikan Pancasila bukan hanya menjadi tanggung jawab guru maupun dosen. Lingkungan pendidikan, pemerintah, keluarga, dan masyarakat dinilai memiliki peran dalam memastikan nilai-nilai Pancasila dapat tercermin dalam sikap dan perilaku generasi muda.
“Pendidikan Pancasila bukan hanya tanggung jawab guru dan dosen tetapi menjadi tanggung semua kita semua. Hal ini menjadi momentum penting guna memperkuat Pancasila sebagai falsafah dan dasar negara yang hidup dalam pikiran, sikap dan perilaku,” ungkapnya.
Dalam lokakarya tersebut, Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah Abdul Mu’ti turut menyampaikan materi mengenai penguatan karakter berbasis Pancasila. Materi yang dibahas mencakup integrasi nilai-nilai Pancasila, pembiasaan, keteladanan atau role model, kegiatan kolaboratif, hingga asesmen karakter.

Lokakarya tersebut juga menghadirkan sejumlah narasumber dari unsur pemerintah dan Fraksi Partai Golkar MPR RI, di antaranya Wakil Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional Febrian A. Ruddyard, Sekretaris Jenderal Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains dan Teknologi Badri Munir Sukoco, serta anggota Fraksi Partai Golkar MPR RI Ferdiansyah dan H. Firman Soebagyo.
Kegiatan diikuti unsur pendidikan dari berbagai jenjang, mulai dari kepala sekolah SMA, SMK, SLB dan SMP, guru Pendidikan Pancasila, pengurus PGRI, perwakilan mahasiswa, serta sejumlah pemangku kepentingan pendidikan lainnya.
Rangkaian kegiatan diawali dengan penampilan tari Mojang Priangan oleh siswi SMKN 10 Bandung dan pembacaan Pancasila oleh Paskibraka. Lokakarya kemudian dilanjutkan dengan pemaparan materi dan sesi tanya jawab mengenai penguatan Pendidikan Pancasila dalam sistem pendidikan nasional.
(Red/Dadan Sambas)






