STIKOM Bandung Jadi Ruang Akademik
Ketua STIKOM Bandung Dr. Dedy Djamaluddin, M.S., yang membuka acara ini menyoroti tantangan baru yang muncul seiring konvergensi media, perkembangan algoritma serta penggunaan Artificial Intelligence (AI).
Menurut Dedy, AI kini tidak hanya menjadi alat bantu, tetapi juga dapat memengaruhi cara seseorang menerima dan mengolah informasi.
“Sikap kritis dan etika menjadi krusial saat memanfaatkan AI agar identitas dan nilai-nilai bangsa tidak kabur (blur). Riset KPID ini sangat penting sebagai pencerahan dan inspirasi pengembangan riset lanjutan bagi para dosen dan civitas akademika STIKOM Bandung,” tegas Deddy.
Selanjutnya Wakil Ketua I Bidang Akademik, Kemahasiswaan dan Kerjasama STIKOM Bandung, sekaligus Penanggung Jawab kegiatan, Muhammad Farid, S.Sos, M.I.Kom, mengatakan pemaparan hasil riset KPID Jawa Barat di lingkungan kampus sangat penting agar mahasiswa memahami perubahan media secara lebih kritis.

Menurut Farid, perguruan tinggi memiliki posisi strategis untuk mempertemukan regulator, industri, akademisi, dan mahasiswa dalam membaca perubahan ekosistem komunikasi.
Kuliah umum tersebut turut dihadiri unsur industri penyiaran, antara lain Persatuan Radio Siaran Swasta Nasional Indonesia (PRSSNI) Jawa Barat, TVRI, CNN serta pelaku industri televisi dan radio lainnya.
“Industri dan perguruan tinggi punya korelasi jelas terkait penyerapan tenaga kerja. Masa depan industri penyiaran sangat bergantung pada lulusan kita, begitu pula sebaliknya. Momentum ini penting untuk memetakan regulasi di tengah era disrupsi digital yang tak terbendung,” ujar Farid.
Menurut Farid, hubungan antara perguruan tinggi dan industri harus terus diperkuat agar lulusan memiliki kompetensi yang sesuai dengan kebutuhan dunia kerja.






