“MICE itu Meeting, Incentive, Conference, dan Exhibition. Intinya menyelenggarakan event. Mereka diajarkan secara teori dari A sampai Z, kemudian produk akhirnya membuat sebuah event,” jelas Silvi.
Kegiatan tahun ini menjadi produk akhir siswa kelas XII sekaligus bagian dari ujian sekolah. Siswa terlibat sejak tahap perencanaan hingga pelaksanaan, sehingga setiap tahapan penyelenggaraan acara menjadi bagian dari proses penilaian.
Pembelajaran tersebut juga melibatkan sejumlah mata pelajaran lain. Bahasa Indonesia diterapkan dalam penyusunan proposal dan naskah pembawa acara, Bahasa Inggris berkaitan dengan kebutuhan industri pariwisata, Matematika digunakan untuk pengolahan statistik dan peluang dalam perlombaan, sedangkan Kewirausahaan diterapkan dalam pengelolaan kegiatan usaha.
Menurut Silvi, kegiatan MICE memang rutin digelar setiap tahun, tetapi konsep acaranya dapat berbeda. Pada tahun sebelumnya, siswa pernah menyelenggarakan open house dan festival budaya melalui kolaborasi dengan ISBI.
Pada kegiatan tahun ini, siswa juga mendapatkan pengalaman mengelola tujuh UMKM yang hadir di lokasi. Keterlibatan tersebut menjadi bagian dari pembelajaran kewirausahaan sekaligus melatih kemampuan siswa dalam mengelola pihak yang terlibat dalam sebuah event.

Silvi menilai pengalaman praktik menjadi penting karena kebutuhan industri tidak hanya berkaitan dengan hard skill. Siswa juga perlu memiliki soft skill seperti kemampuan bekerja dalam tim, berkolaborasi, berkomunikasi dengan kolega dan pelanggan, serta menangani persoalan selama kegiatan berlangsung.
“Industri sering menggarisbawahi bukan hanya hard skill anak, tetapi juga soft skill. Project ini juga mengasah soft skill mereka, seperti bekerja sama dalam tim, berkolaborasi dengan kolega dan pelanggan, serta bagaimana mereka menangani sebuah event,” ujarnya.
Selain teknis penyelenggaraan, siswa juga belajar mengelola pembiayaan melalui dana usaha yang mereka kelola. Kondisi tersebut membuat siswa harus menyesuaikan konsep kegiatan dengan anggaran yang tersedia.
Pembelajaran kemudian tidak berhenti pada pelaksanaan acara. Siswa juga diperkenalkan dengan tiga tahapan utama dalam penyelenggaraan event, yakni pre-event, during event, dan post-event.
“Pesan saya kepada anak-anak, ketika keluar dari sini mereka bisa memaknai apa yang sudah kami lakukan, mulai dari pre-event, during event, sampai post-event. Jadi mereka mempunyai gambaran dasar sebelum turun ke industri,” kata Silvi.
Melalui kegiatan tersebut, SMKN 3 Bandung berupaya mempertemukan teori dengan praktik dalam pembelajaran vokasi. Siswa tidak hanya dituntut memahami konsep penyelenggaraan event, tetapi juga mengasah kemampuan kolaborasi, komunikasi, kreativitas, kewirausahaan dan tanggung jawab melalui kegiatan yang mereka kelola secara langsung.
(Red/Diskominfo Kota Bandung)






