Prestasi tersebut diraih setelah tim SMPN 66 Bandung menjalani persiapan secara intensif. Guru pembimbing Hermi Nurmalasari dan Eti Rohaeti terlebih dahulu melakukan sosialisasi dan membentuk tim sebelum memberikan pendampingan tambahan kepada para siswa.
Selama masa persiapan, ketiga siswa menyisihkan waktu sekitar satu jam setiap pulang sekolah untuk mempelajari materi HAM. Mereka mempelajari seluruh materi secara bersama-sama sebelum membagi fokus berdasarkan jenis soal yang diperkirakan muncul dalam perlombaan.
“Setiap pulang sekolah kami sempatkan satu jam untuk belajar bersama. Kami terus mendampingi dan memberikan support sampai hari perlombaan,” ujar Hermi.
Persiapan tersebut kemudian diterapkan dalam tiga tahapan perlombaan yang harus dilewati tim SMPN 66 Bandung. Habib mengaku sempat tidak yakin timnya bisa menjadi juara pertama karena sejak awal hanya menargetkan posisi kedua atau ketiga.
Sementara itu, Tifanny kembali memperkuat hafalan materi setelah tim memastikan diri lolos ke babak final. Pengulangan materi tersebut membuatnya lebih percaya diri ketika menghadapi babak penentuan.
“Pas masuk final jadi lebih santai dan lebih tahu. Jadi senang banget pas tahu juara satu,” ujar Tifanny.
Selain menjadi ajang kompetisi, Lomba Cerdas Cermat HAM diharapkan dapat membuat pemahaman siswa mengenai HAM tidak berhenti pada materi perlombaan. Nilai tersebut diharapkan dapat diterapkan dalam keseharian, mulai dari menghormati guru dan teman hingga menghargai perbedaan di lingkungan sekolah.
(Red/Diskominfo Kota Bandung)






