SOROT JABAR – Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Bandung menggeser fokus strategi mitigasi bencana banjir dan longsor. Jika selama ini banjir kerap dipahami semata sebagai persoalan kapasitas aliran sungai, BPBD menilai, masalah utama justru terletak pada menurunnya daya resap air di wilayah perkotaan.
Kepala Pelaksana BPBD Kota Bandung, Didi Ruswandi mengatakan, perubahan tata guna lahan yang masif membuat banyak kawasan kehilangan fungsi resapannya.
Kondisi ini memperbesar limpasan air hujan dan meningkatkan risiko banjir, terutama saat intensitas hujan tinggi.
“Selama ini banjir sering dikaitkan dengan kapasitas aliran sungai. Padahal yang paling mendasar adalah kapasitas resapan. Ketika resapan berkurang, potensi banjir otomatis meningkat,” kata Didi, Selasa 3 Februari 2026.
Untuk menekan risiko tersebut, BPBD mendorong penguatan mitigasi berbasis lingkungan melalui pembangunan sumur resapan, kolam retensi serta program penghijauan di sejumlah titik rawan. Langkah ini dinilai lebih berkelanjutan karena menyasar akar persoalan banjir bukan hanya gejalanya.






