Rangkaian AAF 2026 diawali dengan Asia Africa Carnaval yang melibatkan 23 komunitas, dua kabupaten/kota, dua negara, serta diikuti 1.380 peserta. Karnaval tersebut juga dihadiri delegasi dari 28 negara dan disaksikan sekitar 9.800 pengunjung.
Sementara itu, Asia Africa Corner di Gedung De’Majestik menghadirkan beragam aktivitas seni dan budaya. Program Asia Africa Performing Lab yang berlangsung dalam tujuh sesi melibatkan 14 komunitas dengan berbagai pertunjukan seni, pemutaran film, teater, musik, paduan suara hingga gathering mahasiswa internasional yang dikunjungi sekitar 1.200 orang.
Pada program Asia Africa Culture, sebanyak 40 seniman Kota Bandung turut menampilkan karya seni serta menggelar talkshow bertema seni dan kreativitas yang menarik 875 pengunjung selama dua hari.

Kontribusi terbesar terhadap perputaran ekonomi festival berasal dari Asia Africa Market yang menghadirkan 49 tenant dan 18 pengisi acara. Berbagai produk UMKM, kuliner, fesyen, kriya hingga hiburan berhasil mencatatkan transaksi hampir Rp800 juta.
“Transaksi yang hampir mencapai Rp800 juta menunjukkan bahwa event budaya juga dapat menjadi penggerak ekonomi masyarakat. Kehadiran pengunjung memberikan manfaat langsung bagi pelaku UMKM dan industri kreatif. Ini yang terus akan kami dorong agar setiap event memberikan dampak ekonomi yang luas,” ungkap Farhan.






