Selain mendorong pertumbuhan ekonomi, penyelenggaraan AAF 2026 juga mengusung konsep Sustainable Event. Melalui program WAHU, sebanyak 807,58 kilogram sampah plastik berhasil dikumpulkan dari empat titik pengumpulan di Kota Bandung selama tujuh hari menjelang festival.
Data Dinas Lingkungan Hidup Kota Bandung mencatat total sampah yang berhasil dikelola mencapai 22 meter kubik, terdiri atas 80 persen sampah plastik, 10 persen sampah organik, dan 10 persen sampah residu.
Pemerintah Kota Bandung juga menghitung jejak karbon penyelenggaraan festival yang mencapai 10,82 ton CO₂e. Sebagai langkah mitigasi, akan dilakukan program carbon offset melalui penanaman 110 pohon produktif di Kecamatan Sumur Bandung, Lengkong, dan Regol.

“Bagi kami, keberhasilan sebuah festival tidak hanya diukur dari jumlah pengunjung, tetapi juga dari bagaimana acara tersebut bertanggung jawab terhadap lingkungan. Karena itu kami menghitung jejak karbon penyelenggaraan kegiatan dan melakukan kompensasi melalui penanaman pohon produktif. Ini menjadi bagian dari komitmen Bandung menuju penyelenggaraan event yang lebih berkelanjutan,” tutur Farhan.
Ke depan, Pemerintah Kota Bandung berharap Asia Africa Festival terus berkembang sebagai agenda internasional yang mampu memperkuat identitas Bandung sebagai Kota Asia Afrika sekaligus destinasi wisata budaya dunia.
(Red/Diskominfo Kota Bandung)






