Menurutnya, keberagaman tersebut harus menjadi kekuatan untuk memperkuat persatuan, bukan menjadi sumber konflik. “Perbedaan-perbedaan ini harus menjadi kekuatan kita semua. Jangan ada lagi perdebatan yang berujung pada konflik. Justru keberagaman itulah yang membuat Kota Bandung menjadi dinamis dan semarak,” ujar Andri.
Dalam sesi pemaparan materi, Pimpinan Redaksi Pikiran Rakyat Irwan Natsir menyoroti pentingnya peran media dalam menghadirkan informasi yang akurat, menjaga ruang publik yang sehat, serta memperkuat semangat persatuan di tengah masyarakat yang majemuk.
Dosen Fakultas Ushuluddin UIN Sunan Gunung Djati Bandung, Dr. Hj. Medina Chodijah, M.Psi., menyampaikan materi mengenai pentingnya penguatan karakter, nilai-nilai kebangsaan, serta kesadaran hidup berdampingan dalam keberagaman sebagai modal sosial membangun masyarakat yang harmonis.
Sementara itu, KH. Ruslan Abdul Gani, M.Pd., menekankan bahwa pembangunan bangsa tidak hanya bergantung pada pembangunan fisik, tetapi juga harus ditopang oleh penguatan moral, etika, dan akhlak agar persatuan dan keutuhan bangsa tetap terjaga.
Sarasehan berlangsung interaktif melalui sesi diskusi dan tanya jawab antara narasumber dengan peserta. Berbagai gagasan disampaikan mengenai penguatan pembauran kebangsaan, kepemimpinan masyarakat, serta kolaborasi dalam mewujudkan Bandung Utama.
Menutup kegiatan, Tjatja kembali menegaskan bahwa keberhasilan membangun Kota Bandung merupakan tanggung jawab bersama seluruh elemen masyarakat. “Pemerintah tidak akan bisa bekerja sendiri. Sebaliknya, masyarakat juga membutuhkan kepemimpinan yang mampu mengarahkan pembangunan menuju Bandung Utama. Semua harus menjadi satu kesatuan sistem yang utuh dengan visi yang sama,” pungkasnya.
(Red/RRI)






