Kelurahan Pasirlayung Tuntaskan Sampah Organik di Wilayah, Tak Lagi Bergantung ke TPS

Inovasi pengelolaan sampah di Pasirlayung juga dikembangkan melalui penggunaan ground tank, insinerator, serta fasilitas pengolahan kompos dan pupuk cair di RW 13 dan RW 15. Hasil pengolahan tersebut kemudian dimanfaatkan kembali oleh warga.

“Setiap minggu masyarakat datang mengambil kompos maupun pupuk cair hasil pengolahan sampah untuk dimanfaatkan kembali,” ungkap Nani.

Sementara itu, Pendamping Kawasan Bebas Sampah Kelurahan Pasirlayung, Herlan Soemantri, menjelaskan bahwa keberhasilan pengelolaan sampah dimulai dari perubahan perilaku masyarakat melalui kebiasaan memilah sampah sejak dari rumah.

Menurutnya, sampah organik yang telah dipilah kemudian diproses melalui tiga jalur pemanfaatan. Sampah yang masih layak dimanfaatkan menjadi pakan ayam dan bebek, sebagian lainnya digunakan sebagai pakan budidaya maggot, sedangkan sisa organik diolah menggunakan drum komposter menjadi pupuk kompos.

“Dengan sistem ini, seluruh sampah organik dapat dimanfaatkan. Tidak ada yang terbuang sia-sia,” ujarnya.

Berdasarkan data lapangan, produksi sampah organik di Kelurahan Pasirlayung mencapai sekitar 560 kilogram per hari atau sekitar 12 ton per bulan. Khusus di kawasan RW 02 dan RW 03, rumah maggot saat ini mampu mengolah sekitar 50 hingga 75 kilogram sampah organik per hari.

Ke depan, kapasitas pengolahan tersebut ditargetkan meningkat hingga mencapai sekitar 300 kilogram per hari agar lebih banyak sampah warga dapat ditangani langsung di tingkat wilayah.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *