Kelurahan Pasirlayung Tuntaskan Sampah Organik di Wilayah, Tak Lagi Bergantung ke TPS

Herlan menilai keberhasilan tersebut tidak terlepas dari kolaborasi berbagai pihak, mulai dari masyarakat, RT, RW, Karang Taruna, pemerintah kewilayahan, petugas Gaslah, hingga kalangan akademisi.

“Kolaborasi menjadi kunci. Pemerintah, masyarakat, dan perguruan tinggi harus bersama-sama membangun sistem pengelolaan sampah yang berkelanjutan,” katanya.

Salah satu inovasi yang menjadi perhatian di Pasirlayung adalah integrasi antara peternakan ayam dan budidaya maggot. Sistem tersebut dirancang secara tertutup sehingga limbah peternakan tidak menimbulkan pencemaran.

Kotoran ayam dimanfaatkan sebagai media budidaya maggot, sedangkan sampah organik dari masyarakat menjadi sumber pakan. Dengan demikian, seluruh siklus pengolahan berjalan secara terpadu dan minim limbah.

“Sampah organik warga langsung habis terolah dan sistem ini sangat cocok diterapkan di kawasan permukiman karena tidak menimbulkan bau,” jelas Herlan.

Melalui berbagai inovasi tersebut, Kelurahan Pasirlayung berharap dapat menjadi contoh bagi wilayah lain di Kota Bandung dalam membangun budaya pengelolaan sampah dari sumbernya.

“Jika seluruh masyarakat bergerak bersama, persoalan sampah di Kota Bandung dapat diselesaikan mulai dari lingkungan masing-masing,” pungkas Nani.

(Red/Diskominfo Kota Bandung)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *