Dalam pemaparannya, Raja memperkenalkan formula AAP (Akses, Analisis, dan Produksi) sebagai bekal penting dalam menyaring informasi di era digital. Ia juga mengungkapkan bahwa terdapat tiga faktor utama yang membuat seseorang mudah menjadi korban penipuan digital, yaitu rasa urgensi, iming-iming keuntungan, dan kepercayaan palsu.
Selain itu, Raja memetakan tiga modus penipuan digital yang saat ini paling banyak ditemukan, yakni lowongan kerja fiktif, jual beli online palsu, dan phishing atau pencurian data pribadi.

Materi kemudian dilanjutkan oleh pemateri eksternal, Noer Rachman, S.Pd., S.Ag., M.M., M.Pd. Dalam sesi bertajuk Who I Am, ia menekankan bahwa kehidupan modern tidak dapat dipisahkan dari penggunaan gawai dan teknologi digital.
Menurut Noer Rachman, terdapat tiga bentuk utama misleading message yang perlu diwaspadai masyarakat, yaitu impersonation (penyamaran sebagai pihak resmi), false promise (janji keuntungan besar yang tidak realistis), dan urgency scams (penipuan yang menciptakan kepanikan agar korban bertindak tanpa berpikir panjang).
“Keamanan digital bukan hanya persoalan teknis, tetapi juga sikap kritis terhadap setiap informasi yang masuk ke layar kita,” tegasnya.






