Menurutnya, pada periode Desember 2025 hingga Januari 2026 masih terdapat beberapa persyaratan dokumen lingkungan hidup yang belum terpenuhi. Meski demikian, pengelola pasar telah membentuk satuan tugas (satgas) yang melibatkan para pedagang.
“Di Pasar Caringin, sudah ada langkah-langkah perbaikan. Sampah warga yang masuk ke area pasar kini dikumpulkan di dua titik, yaitu Kopi dan Cikuran, masing-masing dilengkapi satu kontainer, dengan pengangkutan yang sudah diatur,” jelas Farhan.
Selain itu, pengolahan sampah di Pasar Induk Caringin telah mulai berjalan. Namun demikian, pasar tersebut masih diberikan kuota tiga rit per hari ke TPA Sarimukti sebagai langkah antisipasi apabila terjadi kelebihan sampah.
Dalam upaya penguatan pengelolaan sampah dari hulu, Farhan mengungkapkan, Pemkot Bandung telah meluncurkan program Gaslah pada 26 Januari 2026 di Ujungberung.
Program ini bertujuan untuk mendorong pemilahan dan pengolahan sampah di tingkat rumah tangga dan RW.
“Kami menargetkan pada minggu pertama Februari sudah ada 1.376 petugas Gaslah yang aktif. Kalau masih ada kekurangan, akan kita lakukan rekrutmen ulang pada Maret,” ujarnya.
Selain Gaslah, Pemkot Bandung juga telah merekrut pendamping KBS sebanyak satu orang di setiap kelurahan. Saat ini, tahapan awal berupa profiling wilayah sedang dimulai sebelum penyusunan rencana kerja.
“Semua ini kami lakukan untuk mengurangi ketergantungan pada TPA. Termasuk mengoperasikan kembali TPST (Tempat Pengolahan Sampah Terpadu) yang dikelola melalui program ISWMP (Improvement of Solid Waste Management to Support Regional and Metropolitan Cities Project) hingga Juni 2026, agar pengolahan sampah di tingkat kota bisa berjalan lebih optimal,” jelas Farhan.
(Red/Diskominfo Kota Bandung)






