Tan Malaka dan Madilog, Mengungkap Magno Opus Yang Merevolusi Pemikiran Indonesia

Sebelum kembali ke tanah air, Tan Malaka pernah menjadi tahanan pemerintah kolonial Belanda dan melarikan diri ke beberapa negara, seperti Rusia, Tiongkok, Singapura, dan Filipina untuk menghindari pengejaran. Selama masa pelariannya, ia bekerja sebagai guru bahasa Inggris dan menghadapi petualangan berat, termasuk harus menyamar berkali-kali dan membuang buku-bukunya ke laut untuk menghindari razia polisi penjajah.

Meskipun demikian, setiap kali mendapat uang, ia selalu membeli buku baru untuk dipelajari, meskipun buku tersebut tidak bisa ia bawa pulang ke Indonesia. Baginya, pustaka sangat penting, dan ia meneladani kecintaan Bung Hatta terhadap buku. Madilog pun ditulis hanya berdasarkan ingatan Tan Malaka.

Dalam pengantar tersebut, Tan Malaka juga menyindir Bung Karno yang dianggapnya kurang radikal. Ia membandingkan masa pengasingan Bung Karno yang hanya 10 tahun di dalam negeri, sementara Tan Malaka diasingkan selama 20 tahun di luar negeri.

Tan Malaka juga membedakan cara perjuangannya dengan Bung Karno, di mana Bung Karno menyebarkan propaganda lewat surat kabar “Sinar Matahari” milik Jepang, sementara Tan Malaka lebih memilih melakukan agitasi secara bawah tanah.

(Rifqi Syeikh)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *