Asri juga memberikan pemahaman mengenai dunia dan budaya Tuli. Ia menegaskan bahwa budaya Tuli merupakan nilai, keyakinan, tradisi, dan bahasa yang dijalani komunitas Tuli. Identitas budaya ini menggunakan istilah Tuli dengan huruf kapital, berbeda dengan kata tuli yang merujuk pada kondisi medis. Komunitas Tuli memandang bahasa isyarat sebagai alat komunikasi utama yang membentuk identitas dan cara mereka berinteraksi.

Lebih lanjut, Asri menekankan pentingnya mempelajari bahasa isyarat, bukan hanya untuk berkomunikasi, tetapi juga untuk membangun masyarakat yang lebih inklusif. Bahasa isyarat, menurutnya, melatih kedua bagian otak sekaligus dan memberikan manfaat bagi siapa pun, baik Tuli maupun Dengar. Ia menyebut bahasa isyarat sebagai jembatan empati yang mampu memperkuat pemahaman dan kesetaraan.
Kegiatan seminar juga diisi dengan sesi pelatihan interaktif menggunakan bahasa isyarat, permainan lanjut kata, penyampaian pesan dan kesan peserta, serta penyerahan cinderamata dari Project Manager kepada narasumber sebagai penutup rangkaian acara.
(Red)






