SOROT JABAR – Keberadaan taman kota di wilayah perkotaan tidak lagi dapat dipandang sekadar sebagai elemen estetika, melainkan memiliki peran strategis sebagai ruang interaksi sosial, ekspresi publik, hingga sarana membangun dialog antarwarga. Hal tersebut disampaikan oleh Umar Komarudin dalam podcast DILANS Voices yang mengangkat isu inklusivitas ruang publik di Kota Bandung.
Dalam pernyataannya, Umar menegaskan bahwa taman kota sejatinya merupakan ruang hidup bagi masyarakat. Selain berfungsi sebagai ruang terbuka hijau (RTH), taman kota juga menjadi tempat masyarakat berinteraksi, berdiskusi, hingga mengekspresikan diri melalui berbagai kegiatan komunitas.
“Keberadaan taman kota bukan hanya sekadar asesoris, tetapi lebih jauh sebagai tempat interaksi antarwarga untuk membicarakan berbagai hal, termasuk menjadi ruang ekspresi dan bagian dari upaya menjaga ruang terbuka hijau,” ujarnya.
Sejak diperkenalkannya konsep taman tematik oleh Pemerintah Kota Bandung pada tahun 2014, perkembangan ruang publik di Bandung menunjukkan kemajuan yang signifikan. Hingga saat ini, tercatat sebanyak 26 taman tematik telah dibangun dan tersebar di berbagai wilayah kota dengan fungsi yang beragam.
Taman-taman tersebut tidak hanya berperan sebagai ruang rekreasi, tetapi juga memiliki karakteristik khusus, seperti taman edukasi, taman olahraga, hingga ruang kreatif yang dapat dimanfaatkan oleh berbagai komunitas lintas minat dan usia. Keberadaan taman tematik ini turut memperkuat identitas Bandung sebagai kota yang ramah komunitas dan kreatif.






