Film Ra.ha.yu Tayang di Bioskop 25 November 2026, Angkat Kisah Guru dan Makna Pengabdian

SOROT JABAR – Film drama keluarga dan pendidikan Ra.ha.yu akan hadir di bioskop Indonesia mulai 25 November 2026. Mengangkat sosok Rahayu sebagai karakter utama, film ini membawa cerita tentang keluarga, pendidikan, luka masa lalu, serta perjalanan menemukan kembali makna pengabdian.

Ra.ha.yu lahir dari kolaborasi antara Gerakan Ekonomi Kreatif Nasional (GEKRAFS), Chlorine, dan Sekolah Al Wafa Ciwidey, dengan dukungan dari sejumlah kolaborator lainnya yang terlibat dalam proses produksi.

Kolaborasi tersebut menjadi bagian penting dalam proses lahirnya Ra.ha.yu. Film ini tidak hanya mempertemukan orang-orang dari latar belakang perfilman, tetapi juga membawa lingkungan pendidikan ke dalam proses kreatifnya.

Cerita film berpusat pada Rahayu, seorang perempuan yang sejak kecil memiliki pandangan kurang baik terhadap profesi guru. Pandangan tersebut terbentuk dari pengalaman masa kecilnya ketika melihat sang ibu, Hanni, lebih banyak mencurahkan perhatian kepada murid-muridnya dibandingkan keluarga.

Pengalaman tersebut meninggalkan persoalan emosional yang terus terbawa hingga Rahayu dewasa. Ia kemudian memilih jalannya sendiri dan membangun Narra Visual, menjauh dari dunia pendidikan yang selama ini memiliki hubungan rumit dengan kehidupan keluarganya.

Keadaan berubah ketika sang ibu mengalami stroke. Rahayu kemudian harus mengambil alih tugas mengajar dan kembali masuk ke lingkungan sekolah yang selama ini berusaha ia tinggalkan.

Di ruang kelas, Rahayu menemukan tantangan baru. Ia menghadapi siswa dengan suasana belajar yang pasif dan kaku. Alih-alih menggunakan pendekatan konvensional, Rahayu mencoba menghadirkan metode pembelajaran kreatif bernama Battle Class.

Metode tersebut dikembangkan dalam bentuk pembelajaran berbasis misi. Perlahan, pendekatan Rahayu mulai membangun kedekatan dengan para siswa dan mengubah dinamika kelas.

Namun, perjalanan tersebut kembali diuji ketika sebuah video dari masa lalu Rahayu menjadi viral. Persoalan itu berkembang menjadi tekanan baru yang tidak hanya memengaruhi dirinya, tetapi juga lingkungan sekolah.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *