Beban tersebut semakin besar karena kebutuhan pemeliharaan tidak dapat ditunda seluruhnya. Dalam pembahasan pihak terkait, terdapat sekitar 135 titik kerusakan yang membutuhkan penanganan.
“Masjid tetap harus buka, jamaah tetap harus dilayani dan bangunan tetap harus dirawat. Artinya, kebutuhan operasional tidak berhenti hanya karena pola dukungan berubah. Kami tidak tinggal diam, tentunya mencari formulasi agar biaya opersional dapat terpenuhi,” ujar Robi.
Menurutnya, pihak Nazhir akan mempertimbangkan berbagai masukan yang disampaikan dalam pertemuan tersebut sebelum menentukan langkah berikutnya.
“Semua masukan yang disampaikan tentu akan kami komunikasikan dengan pihak yang memiliki kewenangan di dalam Nazhir. Kita ingin melihat persoalan ini dengan baik dan menentukan langkah yang tepat,” katanya.
Robi juga berharap perubahan status tidak membuat perhatian terhadap Masjid Agung Bandung ikut berkurang.
“Harapan kami tentu pemerintah tetap melihat kondisi Masjid Agung Bandung ini. Bagaimanapun, masjid ini punya sejarah panjang dan menjadi bagian dari masyarakat. Mudah-mudahan masih ada ruang komunikasi dan perhatian dari pemerintah untuk bersama-sama menjaga keberlangsungan masjid ini,” ujarnya.
Sementara Abah Mansyur menilai perhatian terhadap Masjid Agung Bandung perlu terus dibangun karena persoalan yang muncul menyangkut fasilitas yang digunakan masyarakat setiap hari.
“Kami datang bukan untuk memperbesar persoalan. Kami ingin ada perhatian dan ada jalan keluar. Masjid ini milik umat dan sejarahnya juga bagian dari Kota Bandung, dan lebih kepada kepantasan rumah ibadah,” kata Abah.
Pertemuan tersebut menjadi bagian dari pembahasan mengenai masa depan Masjid Agung Bandung setelah perubahan status dan pola pembiayaan. Selain Robi, Abah Mansyur dan Umar Komarudin, sejumlah aktivis sosial, pemerhati tata ruang, unsur pemuda dan media turut hadir dalam pembahasan.
“Dengan adanya ruang diskusi ini, kita berharap bahwa permasalahan Masjid Agung Bandung dapat segera teratasi dan adanya perhatian dari semua pihak, sehingga Masjid tidak kehilangan marwahnya, terlebih masjid Agung merupakan candra di muka bagi kota ini.” Tutup Umar mengakhiri ruang diskusi.






