Efektivitas kegiatan kemudian diukur menggunakan desain pretest dan posttest dengan instrumen yang telah dikembangkan. Hasil evaluasi menunjukkan adanya peningkatan pengetahuan peserta setelah mengikuti penyuluhan keamanan pangan.
Analisis terhadap instrumen yang digunakan juga menunjukkan bahwa perangkat soal memiliki validitas yang baik. Dengan hasil tersebut, instrumen dinilai layak digunakan sebagai alat evaluasi pengetahuan peserta dalam kegiatan penyuluhan CPPB-IRT yang menjadi bagian dari proses sertifikasi SPP-IRT di Kota Bandung.
Ketua tim pengabdian, apt. MH. Roseno, M.Si., mengatakan instrumen evaluasi yang dikembangkan diharapkan dapat memberikan gambaran yang lebih akurat mengenai tingkat pemahaman peserta pelatihan.
“Instrumen evaluasi yang baik bukan hanya mengukur kemampuan mengingat materi, tetapi juga mampu menilai pemahaman peserta terhadap penerapan prinsip keamanan pangan dalam praktik. Dengan demikian, hasil pelatihan dapat menjadi lebih bermakna dan berdampak terhadap peningkatan mutu pangan yang diproduksi oleh pelaku IRTP,” ujar MH. Roseno.
Sementara itu, apt. Widyastiwi, M.Si. menilai keterlibatan mahasiswa dalam kegiatan tersebut menjadi bagian penting dalam proses pembelajaran berbasis pengalaman. Mahasiswa tidak hanya mendapatkan pengetahuan mengenai keamanan pangan, tetapi juga terlibat langsung dalam proses edukasi dan evaluasi di masyarakat.






