SOROT JABAR – Badan Pangan Nasional (Bapanas) menyebut inflasi beras pada Agustus 2026 mengalami penurunan seiring intervensi pemerintah melalui penyaluran cadangan beras pemerintah (CBP) sekitar 1,9 juta ton.
Kepala Bapanas Andi Amran Sulaiman mengatakan perkembangan inflasi beras hingga Agustus 2026 menunjukkan kondisi yang semakin stabil, baik secara tahunan maupun bulanan.
Secara tahunan, inflasi beras tercatat sebesar 2,77 persen. Angka tersebut menurun dibandingkan Juli 2026 yang berada di level 3,10 persen.
“Level ini membaik jika dibandingkan pada inflasi beras Agustus tahun 2025 yang menjadi titik puncak inflasi beras saat itu di angka 4,24 persen,” kata Amran di Jakarta, Rabu.
Sementara itu, inflasi beras secara bulanan pada Agustus 2026 tercatat 0,42 persen, turun dari 0,49 persen pada bulan sebelumnya. Inflasi beras bulanan sepanjang 2026 juga relatif stabil karena belum pernah menembus 1 persen.
Amran menegaskan pemerintah akan terus menjaga keseimbangan harga beras, baik di tingkat petani maupun konsumen. Menurutnya, kondisi stok beras yang saat ini cukup harus diikuti dengan harga yang wajar di seluruh rantai pasok.
“Stok beras kita banyak. Harga harus baik. Mulai dari petani sampai konsumen. Sekarang banyak beras, hulu sudah bagus, hilir juga harus bagus. Tidak boleh ada anomali harga beras,” tegasnya.
Bersama Perum Bulog, Bapanas mencatat penyaluran CBP sekitar 1,9 juta ton sejak awal 2026 sebagai bagian dari intervensi pemerintah untuk menjaga stabilitas harga dan ketersediaan beras di masyarakat.
Penyaluran tersebut antara lain berasal dari realisasi penjualan beras program Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan (SPHP) sebanyak 221,05 ribu ton pada Januari-Februari dan 731,23 ribu ton pada periode Maret-Agustus 2026.






