Selain itu, pemerintah menyalurkan bantuan pangan tahap pertama sebanyak 662,86 ribu ton dan bantuan pangan tahap kedua yang mulai berjalan dengan realisasi 207,47 ribu ton.
Penyaluran CBP lainnya mencakup bantuan untuk bencana dan keadaan darurat sebanyak 12,11 ribu ton serta golongan anggaran sebesar 56,14 ribu ton.
Selain menjaga pasokan, pemerintah meningkatkan pengawasan terhadap produk beras yang beredar di pasaran. Sejak akhir Juli 2026, Bapanas menemukan sejumlah ketidaksesuaian pada produk beras fortifikasi.
Pengawasan dilakukan terhadap 178 sampel beras fortifikasi di 11 provinsi. Pemeriksaan menemukan sejumlah persoalan yang berkaitan dengan label, mutu, serta kandungan gizi produk.
Hasil laboratorium menunjukkan 93 persen sampel tidak memenuhi syarat klaim sebagai beras fortifikasi maupun beras diperkaya. Bapanas juga menemukan harga sejumlah beras fortifikasi jauh melampaui harga eceran tertinggi (HET) beras premium serta label kemasan yang hanya mencantumkan kandungan dua jenis zat gizi.
Mulai September 2026, pemerintah juga menjalankan pengawasan harga dan mutu beras melalui Satuan Tugas (Satgas) Pengawasan Harga dan Mutu Beras. Satgas tersebut melibatkan Bapanas, Satgas Pangan Polri, Perum Bulog, dan pemerintah daerah.
Berdasarkan pemantauan Bapanas per 31 Agustus 2026, rata-rata harga beras medium secara nasional berada di level Rp13.626 per kilogram. Angka itu turun 3,18 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya yang mencapai Rp14.073 per kilogram.
Sementara rata-rata harga beras premium tercatat Rp16.084 per kilogram, turun 0,48 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya sebesar Rp16.162 per kilogram.
Sebelumnya, Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa Badan Pusat Statistik (BPS) Ateng Hartono mengatakan inflasi beras pada Agustus 2026 dipengaruhi fase transisi setelah periode panen raya. Meski demikian, kondisi produksi beras diproyeksikan masih aman.
“Untuk yang kondisi Agustus tahun 2026, beras ini mencatat inflasi bulanannya itu 0,42 persen dengan andilnya itu 0,02 persen. Secara historis untuk bulan Agustus mulai memasuki fase transisi setelah melewati puncak panen raya,” kata Ateng di Jakarta, Selasa (1/9).
(Red/ANTARA)






