Menurutnya, PERDIBROFI dapat menjadi penghubung antara guru, sekolah, perguruan tinggi, komunitas film, dan mitra pendidikan untuk membuka peluang kolaborasi dengan negara-negara lain di Asia Tenggara.
“Harapannya, PERDIBROFI tidak hanya menjadi ruang komunikasi antarpengajar di Indonesia, tetapi juga dapat membuka kolaborasi dengan pendidik film di negara-negara Asia Tenggara,” kata Firdaus.
Kolaborasi tersebut dapat dikembangkan dalam berbagai bentuk, mulai dari lokakarya bersama, pertukaran mahasiswa dan pendidik, produksi film berbasis komunitas, pemutaran regional, hingga pengembangan sumber pembelajaran bersama.
Firdaus mengatakan perkembangan teknologi digital dan kecerdasan buatan turut membuka peluang bagi kolaborasi lintas negara karena proses komunikasi, produksi, dan distribusi karya kini dapat dilakukan dengan lebih mudah.
Namun, ia menekankan bahwa teknologi tetap perlu ditempatkan sebagai sarana pendukung. Dalam pendidikan film, interaksi antarmanusia, pengalaman masyarakat, identitas lokal, serta dialog antarbudaya tetap menjadi bagian penting dalam proses penciptaan.
Karena itu, jejaring organisasi pendidik seperti PERDIBROFI diharapkan dapat membuka lebih banyak ruang bagi pendidikan film Indonesia untuk terhubung dengan ekosistem regional.
Kolaborasi tersebut tidak hanya berpotensi memperluas pertukaran pengetahuan dan pengalaman, tetapi juga menjadi ruang bagi cerita-cerita lokal Indonesia untuk bertemu dengan berbagai perspektif masyarakat Asia Tenggara.
(Red/Dadan Sambas)






