Emha melihat AI Cinematography memberikan ruang eksplorasi yang luas dalam mengembangkan karakter, lingkungan, pencahayaan, komposisi dan atmosfer. Namun, ia menegaskan arah kreatif serta keputusan artistik tetap berada di tangan manusia.
“AI membuka ruang eksplorasi yang sangat luas. Kita bisa mengembangkan karakter, lingkungan, pencahayaan, komposisi dan atmosfer dengan pendekatan yang lebih fleksibel. Tetapi arah kreatif dan keputusan artistik tetap berada pada manusia,” ujarnya.
Kolaborasi tersebut sekaligus menjadi pertemuan antara identitas budaya Malaysia, kreativitas Indonesia dan perkembangan teknologi visual. Erma membawa perjalanan panjang Mak Cun dari Malaysia, sementara Emha memberikan pendekatan baru melalui AI Cinematography.
Erma berharap perubahan medium dari drama menuju animasi dapat membuat Mak Cun tetap dekat dengan penonton lama sekaligus memperkenalkan karakter tersebut kepada generasi baru. “Mak Cun boleh berubah bentuk dan medium, tetapi jiwanya tidak boleh hilang. Saya mahu penonton yang sudah mengenal Mak Cun tetap merasa dekat, sementara generasi baharu pula mempunyai kesempatan untuk mengenal Mak Cun melalui cara yang lebih dekat dengan mereka,” tutur Erma.
(Red)






