Persib sebagai Identitas Historis Bandung: Jangan Samakan Persib dengan Event Lari, Persib Bukan Dibangun oleh Tren, Tapi oleh Sejarah dan Warisan Budaya

Dalam perspektif Jean Baudrillard (1998), fenomena tersebut juga dapat dipahami sebagai bagian dari consumer society, yaitu masyarakat yang mengonsumsi simbol dan citra sosial sebagai bagian dari pembentukan identitas diri.

Banyak event olahraga urban hari ini berkembang melalui logika konsumsi simbolik: apparel olahraga, gaya hidup sehat, komunitas eksklusif, hingga kebutuhan eksistensi digital.

Sementara itu, loyalitas terhadap Persib lahir bukan dari konsumsi tren, melainkan dari keterikatan sejarah dan emosi kolektif masyarakat Bandung.

Teori cultural embeddedness dari Mark Granovetter (1985) menjelaskan bahwa suatu aktivitas sosial akan memperoleh legitimasi publik apabila tertanam kuat dalam relasi budaya masyarakatnya.

Persib memiliki tingkat embeddedness yang tinggi di Bandung karena keberadaannya telah menjadi bagian dari kehidupan sosial masyarakat selama hampir satu abad.

Sementara event lari belum mencapai posisi tersebut. Ia masih berada pada level fenomena lifestyle urban yang berkembang secara tren, bukan sebagai identitas sosial utama masyarakat kota.

Fenomena ini juga diperkuat oleh teori urban identity resilience dari Manuel Castells (2020) yang menjelaskan bahwa masyarakat kota cenderung mempertahankan simbol budaya lokal ketika berhadapan dengan penetrasi budaya global yang dianggap terlalu artifisial atau tidak merepresentasikan identitas asli kota.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *