Dalam konteks Bandung, Persib merupakan simbol budaya lokal yang tumbuh secara organik dari masyarakatnya sendiri. Sedangkan event lari urban lebih banyak dipandang sebagai kultur gaya hidup metropolitan yang datang mengikuti arus tren global.
Teori place attachment dalam kajian urban kontemporer (Lewicka, 2021) juga menjelaskan bahwa masyarakat akan memiliki toleransi sosial lebih tinggi terhadap aktivitas yang dianggap merepresentasikan identitas tempat dan keterikatan emosional terhadap ruang hidup mereka.
Karena itu, ketika bobotoh turun ke jalan merayakan Persib, masyarakat Bandung tidak semata-mata melihat kemacetan. Mereka melihat ekspresi rasa memiliki terhadap kota dan identitas kolektif mereka sendiri.
Sebaliknya, event lari urban belum memiliki kedalaman emosional yang sama dalam memori sosial masyarakat Bandung.
Selain itu, argumentasi bahwa event lari mampu meningkatkan ekonomi kota juga perlu dibaca secara lebih kritis dan akademik. Hingga saat ini belum terdapat penelitian komprehensif yang menunjukkan bahwa event lari memberikan kontribusi signifikan dan berkelanjutan terhadap ekonomi Kota Bandung secara struktural.
Sebagian besar dampak ekonomi event lari masih bersifat jangka pendek dan temporer, seperti peningkatan okupansi hotel atau konsumsi kuliner selama acara berlangsung. Namun biaya sosial seperti kemacetan, disrupsi aktivitas warga, hingga penggunaan ruang publik belum banyak dihitung secara serius.
Di sisi lain, perlu ditegaskan bahwa persoalan utama sebenarnya bukan terletak pada warga Bandung ataupun para pelari. Konflik sosial ini lebih banyak muncul akibat lemahnya tata kelola event dan kurang sensitifnya penyelenggara terhadap karakter budaya Kota Bandung.






