Karena itu, menjadi bobotoh sering kali tidak lahir dari keputusan individual yang rasional, tetapi dari proses sosial yang diwariskan. Dalam istilah Pierre Bourdieu (1984), kondisi ini dapat dipahami melalui konsep habitus, yaitu struktur nilai dan kebiasaan yang tertanam dalam kehidupan masyarakat sehingga membentuk cara berpikir dan bertindak secara alami.
Habitus kebudayaan Persib telah hidup sangat lama di Bandung. Euforia konvoi, atribut biru, hingga solidaritas antar-bobotoh merupakan ekspresi simbolik dari identitas kolektif yang telah melembaga secara sosial.
Sebaliknya, fenomena event lari urban di Bandung merupakan gejala sosial yang relatif baru.
Popularitas olahraga lari meningkat terutama dalam 3–4 tahun terakhir seiring berkembangnya budaya wellness, media sosial, dan gaya hidup kelas menengah urban.
Fenomena ini dapat dibaca melalui teori identity consumption dari Arnould dan Thompson (2021) yang menjelaskan bahwa masyarakat urban modern cenderung membangun identitas sosial melalui konsumsi simbolik atas aktivitas tertentu. Dalam konteks ini, event lari tidak lagi sekadar olahraga, melainkan menjadi bagian dari citra gaya hidup urban modern: tentang visual media sosial, eksistensi komunitas, personal branding, hingga simbol status sosial kelas menengah perkotaan.
Karena itu, kultur lari urban berkembang sangat cepat melalui media sosial dan tren digital, tetapi belum tentu memiliki keterhubungan historis dengan identitas lokal masyarakat Bandung.
Hal ini berbeda secara fundamental dengan Persib yang memiliki legitimasi historis dan akar kultural yang jauh lebih mendalam.






