Karhutla 2026: Ketika Asap Menguji Tata Kelola dan Ketahanan Bisnis Kita

Oleh: Ignatius Oki Dewa Brata
(Mahasiswa Program Doktor Ilmu Manajemen (DIM) Universitas Widyatama, Bandung)

SOROT JABAR – Setiap musim kemarau, kata “kabut asap” kembali akrab di telinga warga Sumatra dan Kalimantan. Namun tahun 2026 terasa berbeda. El Nino membawa cuaca yang lebih panas dan kering, sehingga api menjalar lebih cepat dan lebih luas. Data SiPongi Kementerian Kehutanan mencatat sekitar 202 ribu hektare lahan terbakar sepanjang Januari hingga Agustus 2026, jauh di atas 137 ribu hektare pada periode yang sama tahun 2019, yang juga merupakan tahun El Nino. Greenpeace Indonesia, berdasarkan analisis citra satelit, bahkan menyebut luas area terbakar hingga September mencapai 1,9 juta hektare. Selisih yang begitu besar ini sudah menjadi persoalan tersendiri: kita belum sepakat tentang seberapa besar masalah yang sedang kita hadapi.

Dampaknya bergerak jauh melampaui batas hutan. Kementerian Kesehatan mencatat 283.270 kasus infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) pada 18 Agustus hingga 13 Oktober 2026, dan 63.711 di antaranya menimpa balita. Sekitar 1,4 juta siswa di enam provinsi sempat beralih ke pembelajaran daring, penerbangan di Pontianak terganggu, dan asap menyeberang hingga Malaysia, Brunei, dan Filipina. Titik api juga muncul di wilayah yang dulu jarang tersentuh, seperti Papua Selatan. Hingga 20 Oktober, Polri telah menetapkan 13 korporasi dan 243 orang sebagai tersangka, sebagaimana dilaporkan Kapolri dalam Sidang Kabinet Paripurna.

Bagi dunia usaha, angka yang paling menohok adalah ongkosnya. Center of Economic and Law Studies (CELIOS) memperkirakan kerugian ekonomi dan kesehatan selama Januari-Agustus mencapai Rp39 triliun hingga Rp123 triliun. Ekonom Universitas Islam Internasional Indonesia, Teguh Yudo Wicaksono, menghitung kerugian hingga pertengahan. Oktober sekitar Rp167 triliun, setara 0,65 persen PDB, dan bisa membengkak menjadi Rp204 triliun bila sisa musim kebakaran berjalan seperti tahun 2015 dan 2019. Kerugian terbesar menimpa pertanian dan kehutanan, tetapi pedagang, warung makan, hotel, dan pelaku wisata ikut merasakan sepinya pembeli ketika langit berubah kuning.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *