Karhutla 2026: Ketika Asap Menguji Tata Kelola dan Ketahanan Bisnis Kita

Jangan Biarkan Urgensi Ikut Padam

Pola karhutla di Indonesia sebenarnya mudah ditebak. Api membesar saat kemarau, perhatian publik memuncak, lalu semuanya mereda begitu hujan turun. Kotter menyebut kegagalan membangun rasa urgensi sebagai salah satu penyebab utama gagalnya perubahan organisasi. Dalam kasus karhutla, masalahnya justru terbalik: urgensi itu ada, tetapi selalu padam bersama api. CELIOS juga mengingatkan bahwa sebaran kebakaran kini meluas ke luar lahan gambut, sementara upaya pemulihan ekosistem melemah sejak lembaga khusus restorasi gambut dibubarkan pada 2024. Artinya, pelajaran dari setiap musim kebakaran perlu dilembagakan menjadi prosedur, anggaran, dan budaya kerja, bukan hanya diingat ketika langit kembali berasap.

Penutup

Hujan pada akhirnya akan turun dan api akan padam. Namun kerugian ratusan triliun rupiah, ratusan ribu warga yang sakit, dan jutaan siswa yang kehilangan hari belajar seharusnya tidak dianggap sebagai musibah musiman yang wajar. Asap tahun ini adalah tagihan dari kelalaian tata kelola selama bertahun-tahun, dan tagihan itu dibayar bersama oleh pemerintah, dunia usaha, dan masyarakat. Bisnis yang ingin bertahan bukan hanya yang paling cepat beradaptasi terhadap asap, melainkan yang ikut memastikan asap itu tidak kembali tahun depan.

(Dadan Sambas)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *