Penggunaan pendekatan tersebut antara lain berkaitan dengan sulitnya mengukur pendapatan secara langsung. Sebagian masyarakat bekerja di sektor informal, memiliki penghasilan yang tidak tetap, atau tidak mempunyai catatan pendapatan yang lengkap.
Dalam model PMT, informasi seperti kondisi tempat tinggal, tingkat pendidikan, pekerjaan, komposisi anggota keluarga, kepemilikan aset, serta karakteristik sosial ekonomi lainnya dapat digunakan untuk memperkirakan tingkat kesejahteraan rumah tangga.
Dengan demikian, PMT tidak bekerja berdasarkan satu indikator saja. Berbagai karakteristik tersebut dianalisis melalui model statistik yang dibangun berdasarkan hubungan antara karakteristik rumah tangga dan ukuran kesejahteraan yang telah diketahui.
Pendekatan serupa juga telah digunakan dalam sistem perlindungan sosial di berbagai negara. Meski demikian, PMT bukan metode yang menghasilkan prediksi sempurna.
Sebagai model prediksi, PMT tetap memiliki kemungkinan menghasilkan kesalahan penargetan atau targeting error. Salah satu bentuknya adalah exclusion error, ketika keluarga yang sebenarnya membutuhkan bantuan tidak masuk kelompok sasaran. Sebaliknya, inclusion error terjadi ketika keluarga yang tidak memenuhi kriteria justru masuk dalam kelompok sasaran.






